Kesesatan Keyakinan Menyatunya Allah dengan Makhluk
Kesesatan Keyakinan Menyatunya Allah dengan Makhluk adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 10 Safar 1448 H / 25 Juli 2026 M.
Kajian Islam Tentang Kesesatan Keyakinan Menyatunya Allah dengan Makhluk
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim[14]: 26)
Kebatilan diumpamakan seperti tumbuhan yang tidak memiliki akar kuat yang menancap ke dalam tanah, sehingga tidak mempunyai keteguhan. Oleh karena itu, hamba yang menginginkan keteguhan di atas kebenaran hendaknya senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hati manusia dinamakan al-qalbu karena sifatnya yang sangat mudah berbolak-balik, dan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang Mahakuasa untuk meneguhkannya.
Lanjutan ayat di dalam surah Ibrahim menegaskan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam memberikan keteguhan kepada orang-orang beriman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim[14]: 27)
Ucapan yang teguh merujuk pada dua kalimat syahadat yang menjadi prinsip dan landasan utama ajaran Islam. Kalimat syahadat mengandung pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tanpa ada sekutu bagi-Nya, serta pengakuan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah utusan Allah. Inilah pokok akidah yang menjadi pegangan hidup setiap muslim.
Aqidah yang lurus berfungsi mengikat hati seorang hamba agar senantiasa teguh di atas jalan kebenaran. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah ketika menafsirkan ash-shirathal-mustaqim (jalan yang lurus), keselamatan jalan tersebut bertumpu pada dua bentuk tauhid, yaitu tauhidul-ibadah (mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam beribadah tanpa menyekutukan-Nya) dan tauhidul-mutaba’ah (mengkhususkan ittiba’ atau meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semata tanpa mengikuti petunjuk selain beliau).
Prinsip ini menunjukkan pentingnya memberikan perhatian besar terhadap pembahasan aqidah, manhaj, serta prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah. Penulisan kitab-kitab aqidah secara berulang membahas tentang tauhid, hal-hal yang membatalkan tauhid, syirik kecil, hingga jenis-jenis syirik besar.
Tujuan mempelajari pembahasan tersebut adalah agar setiap muslim yang telah mengenal manhaj salaf dapat terus berada di atasnya hingga wafat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat. Keinginan untuk diwafatkan di atas Islam dan sunnah senantiasa dipanjatkan melalui doa yang sering diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah:
اللَّهُمَّ أَمِتْنِي عَلَى الإِسْلاَمِ وَالسُّنَّةِ
“Ya Allah, wafatkanlah aku di atas Islam dan di atas sunnah (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).”
Sifat Kemanisan Iman dan Keteguhan Para Sahabat
Pembahasan mengenai jenis-jenis syirik besar melandasi jenis kelima, yaitu keyakinan al-hulul atau menyatunya/menitisnya Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam diri makhluk.
Syirakul hulul yaitu keyakinan bahwasanya Allah menitis/menyatu ke dalam diri makhluk-makhluk-Nya.
Keyakinan ini merupakan bentuk kekufuran yang sangat nyata dan pemahaman yang sangat rusak. Para ulama salaf menegaskan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Mulia lagi Maha Sempurna bersifat terpisah dari makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Besar, Maha Agung, dan Maha Mulia tidak mungkin menyatu dengan makhluk yang penuh dengan kelemahan serta kekurangan.
Penyimpangan Tokoh Sufi Ekstrem
Paham al-hulul merupakan aqidah yang dianut oleh tokoh sufi ekstrem bernama Ibnu ‘Arabi yang dikuburkan di Damaskus. Para ulama menyampaikan bahwa ucapan-ucapan orang Yahudi dan Nasrani masih dapat diceritakan kembali, tetapi ucapan-ucapan kelompok penyimpang ini mengenai Allah ‘Azza wa Jalla sangat berat dan merusak.
Ibnu ‘Arabi mengungkapkan keyakinan tersebut di dalam bait syairnya:
الرَّبُّ عَبْدٌ وَالْعَبْدُ رَبٌّ ، يَا لَيْتَ شِعْرِي مَنِ الْمُكَلَّفُ
“Rabb (Tuhan) adalah hamba dan hamba adalah Rabb (Tuhan). Duhai, sekiranya aku tahu, siapakah yang dibebani syariat?”
Syair tersebut menggambarkan anggapan bahwa Tuhan dan hamba telah menyatu, sehingga timbul pernyataan mengenai ketidakjelasan pihak yang dibebani kewajiban syariat.
Penyair lain dari kalangan pengikut paham sufi ekstrem yang meyakini al-hulul turut menyampaikan ucapan-ucapan yang sangat kufur. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi dari apa yang mereka ucapkan, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
“Alangkah besarnya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta belaka.” (QS. Al-Kahf[18]: 5)
Penyair tersebut menyatakan di dalam syairnya:
وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ إِلا إِلَهُنَا ، وَمَا اللَّهُ إِلا رَاهِبٌ فِي كَنِيسَةٍ
“Tidaklah anjing dan babi itu melainkan sesembahan kami, dan tidaklah Allah itu melainkan seorang pendeta di dalam gereja.”
Pernyataan yang menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk serta hewan merupakan bentuk kekufuran yang sangat nyata dan termasuk syirik besar. Keyakinan tersebut mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan ajaran Islam berlepas diri dari pemahaman yang rusak tersebut.
Seluruh umat Islam meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang Maha Tinggi, Maha Agung, lagi Maha Sempurna, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى
“Dan Allah mempunyai sifat Yang Mahatinggi.” (QS. An-Nahl[16]: 60)
Makhluk yang dipenuhi dengan kelemahan dan kekurangan tidak mungkin menyatu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahatinggi, Mahagung, lagi Mahabesar. Namun demikian, berbagai bentuk kesesatan akan senantiasa memiliki pengikut.
Jenis Syirik Keenam: Syirkut-Tasharruf
Jenis kesyirikan besar yang keenam adalah syirkut-tasharruf yakni kesyirikan di dalam meyakini adanya makhluk yang dapat berbuat atau mengatur alam semesta.
Syirkut-tasharruf yaitu keyakinan bahwa sebagian wali memiliki kemampuan tasharruf (mengatur) di alam semesta dan mengurus perkara-perkaranya.
Kelompok yang menganut pemahaman sesat ini menamai tokoh-tokoh tersebut dengan sebutan al-aqthab (bentuk jamak dari al-quthb atau wali kutub). Tokoh yang dianggap sebagai wali tersebut disifati dengan sifat-sifat yang hanya layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, seperti mengetahui hal ghaib, mengetahui waktu kematian, serta mengendalikan urusan alam semesta.
Orang-orang musyrik pada zaman jahiliyah mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan satu-satunya Pengatur alam semesta. Hal tersebut ditegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
“Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (QS. Yunus[10]: 31)
Pengakuan orang-orang musyrik zaman dahulu menunjukkan bahwa pelaku kesyirikan pada masa kini yang meyakini tasharruf pada selain Allah memiliki keyakinan yang lebih buruk. Penisbatan kemampuan mengatur alam kepada makhluk merupakan bentuk pengabaian terhadap keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS. Az-Zumar[39]: 67)
Jenis Syirik Ketujuh: Syirkul-Khauf
Jenis kesyirikan besar yang ketujuh adalah syirkul-khauf yaitu kesyirikan di dalam menyimpangkan rasa takut ibadah kepada selain Allah. Rasa takut yang berada di dalam hati hamba tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena setan akan berusaha membesarkan rasa takut tersebut hingga mendominasi hati dan menjadi sebab kerugian bagi hamba.
Syirkul-khauf diartikan bahwa sebagian wali yang telah meninggal dunia memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa takut kepada mereka.
Keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dunia atau berada di tempat jauh mampu memberikan kemudharatan merupakan bentuk kesyirikan. Kemampuan untuk menimpakan kemudharatan atau memberikan manfaat hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya dimanapun mereka berada.
Keyakinan rasa takut yang menyimpang merupakan perkara yang pernah dilakukan oleh orang-orang musyrik, sebagaimana diperingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan-sesembahan) yang selain Allah.” (QS. Az-Zumar[39]: 36)
Semakin seorang hamba menyempurnakan penghambaan dan tauhidnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perlindungan dan kecukupan, tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan kemudaratan atau keburukan kepadanya.
Upaya menakut-nakuti manusia dengan wali-wali atau sesembahan selain Allah merupakan strategi setan untuk melemahkan keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal tersebut di dalam firman-Nya:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-temannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 175)
Rasa takut yang melampaui batas hingga menyebabkan seseorang meyakini hal-hal yang rusak, meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau enggan menunaikan ibadah merupakan ketakutan yang tidak dibenarkan di dalam agama dan dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam perbuatan syirik besar.
Pembedaan Antara Takut yang Bernilai Syirik dan Takut Alami
Penjelasan mengenai rasa takut yang wajar dipaparkan oleh para ulama sebagai berikut:
“Adapun rasa takut dari binatang buas dan dari ular, maka hal tersebut diperbolehkan dan bukan merupakan bentuk kesyirikan.”
Rasa takut yang bersifat alami seperti takut kepada hewan buas atau kedzaliman orang yang masih hidup, tidak disertai dengan perasaan tunduk dan pengagungan. Seseorang yang menghadapi bahaya fisik dapat berusaha menyelamatkan diri atau melawan bahaya tersebut.
Sebaliknya, rasa takut yang disertai dengan ketundukan, peribadatan, dan pengagungan hati kepada makhluk, meskipun makhluk tersebut berada di tempat yang jauh atau sudah meninggal dunia, merupakan bentuk syirkul-khauf yang dapat membatalkan keimanan.
Rasa takut, rasa cinta, dan pengharapan (raja’) di dalam hati harus senantiasa dijaga serta ditujukan semata-mata kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Rasa bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dimanfaatkan oleh setan untuk mengikis keimanan melalui tontonan, cerita, atau kabar yang memupuk ketakutan berlebihan kepada makhluk.
Kondisi hati yang didominasi oleh kecintaan atau ketakutan berlebihan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla akan mempersempit ruang tauhid di dalam diri. Rasa takut yang melampaui batas kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan membuat seseorang dikuasai oleh hal yang ditakutinya tersebut.
Para ulama menyampaikan kaidah mengenai dampak rasa takut kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla:
“Barangsiapa yang takut kepada selain Allah, maka sesuatu tersebut akan dijadikan menguasai dirinya.”
Hamba yang menujukan rasa takutnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata akan diberikan kekuatan dan keberanian di dalam menghadapi berbagai makhluk selama berada di atas kebenaran.
Jenis Syirik Kedelapan: Syirkul-Hakimiyah
Prinsip mengenai ketetapan hukum merupakan perkara yang harus diyakini oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, serta diyakini oleh setiap orang yang bertauhid dengan benar.
Jenis kesyirikan besar yang kedelapan adalah syirkul-hakimiyah (kesyirikan di dalam penetapan hukum). Penerapan syirkul-hakimiyah berkaitan erat dengan keyakinan di dalam hati.
Syirkul-hakimiyah didefinisikan sebagai berikut:
“Yaitu orang yang membuat undang-undang yang menyalahi Islam dan membolehkannya, atau meyakini tidak layaknya hukum Islam untuk diterapkan.”
Kesyirikan ini mencakup hakim yang membuat atau menetapkan hukum maupun orang yang dijatuhi hukum, yaitu apabila orang yang dijatuhi hukum tersebut meyakini serta ridha terhadap hukum yang menyalahi syariat tersebut.
Seseorang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak secara otomatis dikatakan kafir atau terjerumus ke dalam syirik besar. Kondisi tersebut bergantung pada keyakinan di dalam hatinya. Seseorang bisa jadi berbuat dosa besar karena menuruti hawa nafsu atau menerima suap, namun tetap mengakui bahwa dirinya bersalah dan meyakini hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang terbaik.
Perbedaan tingkatan hukum tersebut dijelaskan di dalam Surah Al-Ma’idah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 44)
Seseorang dihukumi kafir apabila meyakini hukum selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik atau setara dengan hukum-Nya. Adapun seseorang yang mengakui kebenaran hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala namun melanggarnya karena hawa nafsu atau suap, tindakan tersebut termasuk ke dalam tingkatan kezaliman atau kefasikan. Penerapan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala harus senantiasa didasarkan pada pemahaman tauhid yang benar.
Dampak Syirik Besar Terhadap Amal Kebajikan
Penjelasan tambahan yang berhubungan dengan syirik besar adalah bahwa syirik besar dapat menggugurkan seluruh amal kebajikan. Perbedaan mendasar antara syirik besar dan syirik kecil terletak pada dampaknya terhadap amal. Syirik kecil hanya menggugurkan amal yang tercampur oleh perbuatan syirik tersebut dan tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, meskipun syirik kecil tergolong sebagai dosa yang sangat besar. Sebaliknya, syirik besar menghapuskan seluruh amal ibadah yang pernah dilakukan.
Gugurnya seluruh amal akibat syirik besar ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi’.” (QS. Az-Zumar[39]: 65)
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am[6]: 88)
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, syirik besar membawa konsekuensi pembatalan seluruh amal ibadah dan kebinasaan bagi pelakunya.
Syirik kecil tidak menggugurkan seluruh amal kebajikan, melainkan hanya menghapuskan amal yang tercampur oleh perbuatan syirik tersebut. Syirik kecil juga tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam ataupun kekal di dalam neraka, meskipun tergolong sebagai dosa yang sangat besar dan lebih berbahaya dibandingkan dosa-dosa besar lainnya.
Sebaliknya, syirik besar menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, menghapuskan seluruh amal kebajikan, serta menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka. Syirik besar merupakan perbuatan menjadikan sekutu yang sempurna bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan syirik kecil tidak demikian, meskipun syirik kecil dapat menjadi sarana yang mengantarkan seseorang kepada kesyirikan besar.
Perkara kesyirikan harus diwaspadai secara sungguh-sungguh. Berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari seperti rasa takut yang dibiarkan tumbuh dan semakin menguasai hati dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan syirik tanpa disadari.
Penerimaan Tobat dari Dosa Syirik Besar
Syirik besar tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali melalui tobat yang sungguh-sungguh dan meninggalkan perbuatan syirik tersebut secara total. Tobat yang sungguh-sungguh menghapuskan dan menggugurkan seluruh dosa, termasuk dosa syirik dan kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya’.” (QS. Az-Zumar[39]: 53)
Orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh dari perbuatan syirik dan kekufuran akan diterima tobatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, amal-amal kebaikan terdahulu yang sempat gugur akibat syirik atau kekufuran tersebut akan dikembalikan dan diperhitungkan kembali. Sebagai contoh, sebagian sahabat yang sempat murtad kemudian kembali masuk Islam dan bertobat dengan sungguh-sungguh, maka kedudukan dan keutamaan mereka sebagai sahabat tetap diakui.
Ketentuan mengenai tidak diampuninya dosa syirik ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni apa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`[4]: 116)
Ayat tersebut berlaku bagi orang yang melakukan syirik besar dan meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat. Adapun dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala; jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika tidak, pelaku dosa tersebut akan dimasukkan ke dalam neraka untuk sementara waktu hingga bersih dari dosa, kemudian diangkat ke surga selama masih memiliki keimanan dan tidak membatalkannya dengan kesyirikan besar.
Ayat mengenai pengampunan seluruh dosa melalui tobat sebagaimana tercantum dalam Surah Az-Zumar ayat 53, berlaku khusus bagi hamba yang bertobat dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan dosa-dosanya sebelum ajal menjemput.
Waspada Terhadap Jenis-Jenis Kesyirikan
Poin kesebelas atau bagian terakhir dari pembahasan ini menjelaskan mengenai klasifikasi dan bahaya kesyirikan.
“Dan syirik memiliki banyak jenis, diantaranya ada syirik besar dan syirik kecil yang wajib diwaspadai.”
Kesyirikan memiliki jenis yang sangat banyak, baik syirik besar maupun syirik kecil, yang wajib untuk diwaspadai dan dijauhi. Penyebutan istilah syirik kecil bukan berarti perkara tersebut dapat diremehkan, karena syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya.
Sebagian pendapat ulama menyatakan bahwa dosa syirik kecil tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam artian dosa tersebut tetap ditimbang di dalam lembaran amal keburukan manusia. Keberadaan dosa syirik di dalam timbangan akan sangat berat untuk diimbangi oleh amal-amal saleh, kecuali amal saleh yang dikerjakan dengan keikhlasan yang sangat kuat atas taufik dari Allah Subhanahu wa Ta melepaskan hamba-Nya. Baik syirik besar maupun syirik kecil harus dihindari karena merupakan keburukan besar yang menjadi sebab seseorang terancam oleh azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Doa Perlindungan dari Perbuatan Syirik
Fitnah di akhir zaman yang sangat banyak membuat kesyirikan dapat menimpa siapa saja. Oleh karena itu, doa menjadi kunci pembuka segala kebaikan yang harus senantiasa dipanjatkan, terutama pada waktu-waktu dikabulkannya doa.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan sebuah doa perlindungan dari perbuatan syirik untuk senantiasa diucapkan:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad)
Doa tersebut hendaknya dibaca dan diulang-ulang bersamaan dengan doa-doa permohonan keteguhan iman serta perlindungan dari segala keburukan. Sesuatu yang berkedudukan tinggi dan mulia akan dijaga dengan sebaik-baiknya, dan tidak ada perkara yang lebih berharga maupun lebih mulia bagi seorang hamba melainkan keimanan dan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Kesesatan Keyakinan Menyatunya Allah dengan Makhluk” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56403-kesesatan-keyakinan-menyatunya-allah-dengan-makhluk/